Minggu, 30 Agustus 2009

Himawan Arief Sugoto, Direktur Utama Perumnas


Sekitar dua tahun terakhir, Perum Perumnas (Perumnas) banyak mengalami perubahan yang dinamis. Dari kemerosotan penjualan maupun citra pada periode sebelumnya, perlahan tampil kembali meneguhkan perannya sebagai pelaku utama dalam penyediaan perumahan bagi masyarakat. Perubahan positif ini tak lepas dari peran Himawan Arief Sugoto, yang sejak Oktober 2007 lalu mengemudikan BUMN berusia 35 tahun itu.

Program pembangunan 1000 tower yang dicanangkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono,
dijadikannya momentum untuk merebut kembali kejayaan Perumnas. ”Saya punya obsesi,agar masyarakat back to city, ke kota dengan konsep rumah vertikal.” ujar Master dengan Predikat CumLaude di bidang Project Management Universitas Indonesia ini, tentang rumah susun yang kini sedang dipercepat pembangunannya.

Kepada Nanik Ismiani dan Ismayanti dari Rumah Kita, Himawan Arief menyampaikan
berbagai catatan penting yang telah ditorehkan Perumnas, visi, harapan, dan
rencana-rencana ke depan. Berikut petikannya.



Tahun ini Perumnas berusia 35 tahun. Apa saja catatan penting yang sudah ditorehkan Perumnas dalam membangun perumahan rakyat??

Ya..Perumnas saat ini memang sudah 35 tahun. Visi pendirian Perumnas yaitu menyediakan sektor papan bagi masyarakat, sudah dilakukan oleh Perumnas selama 35 tahun. Banyak sudah kota-kota yang dibangun oleh Perumnas, lebih dari 150 kota di 300 lokasi dan ini merupakan suatu track record yang panjang yang telah memberikan sumbangsih kepada masyarakat, khususnya masyarakat menengah bawah dalam sektor papan. Bahkan sekarang perumahan-perumahan yang telah dibangun oleh Perumnas telah menjadi sebuah perkotaan. Baik itu di sekitar Jabodetabek, Jawa, dan luar Jawa.
Perubahan perumahan telah dilakukan oleh Perumnas. Saat ini perumahan itu sudah berubah menjadi sebuah komunitas kehidupan yang majemuk yang memberikan suatu perubahan dan menjadi pusat perekonomian yang cukup baik. Sebagai contoh, Depok. Dulu Depok daerah yang sangat sepi, khususnya daerah dekat Kelapa Dua. Mall besar sangat sepi dan belum banyak. Hingga akhirnya Perumnas membangun Depok 1, Depok 2, Klender, dan lainnya.

Dan kondisi yang sama juga dialami beberapa daerah lainnya seperti Bandung, Medan, Padang, Makasar, Bali yang dulu juga sepi. Berangkat dari itu, Perumnas memperkuat komitmennya untuk menjalankan program Pemerintah dalam menyiapkan sektor papan, yang mana dalam 10 tahun hingga 15 tahun ini kebijakan tentang peran Perumnas agak sedikit bergeser.


Bukankah kontribusi swasta dalam pertumbuhan sektor papan juga cukup besar?

Banyak orang mungkin melihat, partisipasi swasta lebih besar dalam sektor papan ini. Memang betul masalah perumahan ini, swasta berkontribusi. Namun bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah bawah akan sangat sulit, kemampuan daya beli rumahnya tidak semuanya dapat menjangkau.

Oleh karena itu, kita mengacu dan bercermin pada negara lain. Hampir semua Pemerintah di Negara lain membuat sebuah badan koorporasi dalam menyediakan perumahan bagi masyarakat menengah bawah. Itulah sebenarnya yang dicita-citakan Perumnas. Nah selama 35 tahun kita sudah memproduksi rumah baik di perumahan landed maupun vertikal.

Lalu, apa rencana Perumnas ke depan?

Melihat begitu banyak pengembang dan masyarakat pun masih sangat membutuhkan, Manajemen berpikir bahwa Perumnas baiknya di empower menjadi national over development operation, dengan tujuan Perumnas mendapat peran yang maksimal dalam menyiapkan perumahan sehingga instansi lain tidak perlu menyiapkan dana atau mengalokasikan rumah bagi stafnya, atau bisa mengkoordinasikan pembangunannya dengan Perumnas.

Ini akan menjadi lebih baik dan efektif, karena memang Perumnas sudah memiliki track record yang panjang. Dan Perumnas ingin menjadi pelaku utama dalam menyediakan rumah bagi masyarakat di Indonesia. Pelaku utama seperti kalau di bidang listrik oleh PLN, telekomunikasi oleh Telkom, transportasi oleh KAI , logistic oleh Bulog dan lain-lain. Seharusnya untuk perumahan, Perumnas bisa menjadi pelaku dan mengambil peran utama itu. Kenapa seperti itu? Karena kenyataannya saat ini perkotaan cenderung berkembang menjadi pemukiman yang padat dan semrawut. Untuk mewujudkan itu, Perumnas dapat bermitra dengan Pemda, dan instansi Pemerintah lainnya dalam membangun perumahan.

Ada satu titik dimana Perumnas seperti mengalami kemerosotan. Baik itu dalam perannya, penjualan, maupun citranya. Tugas direksi yang sekarang antara lain mengembalikan kejayaan Perumnas. Apa kebijakan dan program-program yang dicanangkan?
Kalau kita bicara perjalanan Perumnas tadi, sebenarnya kemerosotan tersebut terjadi sudah lama. Hal ini terjadi karena awalnya Perumnas didirikan untuk tujuan sebagai penyedia rumah untuk masyarakat bawah tentu akan beda dengan approach katakanlah sebagai sebuah korporasi atau Persero. Sekarang ini antara Perum dan Persero tidak jelas, sejauh ini sebenarnya Perumnas ingin masalah ini di-clear-kan. Kalau kita sebagai Perum, konsekuensinya Pemerintah seharusnya memberikan kebijakan yang mendukung secara maksimal dalam banyak hal, misalnya saja alokasi subsidi, lokasi, masalah saham dan sebagainya, sehingga kita bisa berkembang baik.

Lalu kita melihat adanya celah, di tahun 2007 hingga sekarang adanya program pembangunan Rumah Susun (Rusun). Lalu kita jalankan, dan kita maksimalkan dengan tujuan untuk menunjukkan kembali Perumnas sebagai institusi yang dipercaya menjalankan program pemerintah. Sehingga saat ini kami mempercepat program-program pembangunan rusun. Salah satunya, rusun yang sudah diresmikan Presiden di Cengkareng , rusun yang diresmikan oleh Wapres di Kemayoran dan program-program rumah susun lainnya di Jakarta. Nah, program-program rusun tidak hanya di Jakarta, juga ada di daerah lain, termasuk juga melakukan program renewal.

Bagaimana dengan pembangunan rusunami?

Saat ini komposisi pembangunan rusunami dengan landed, masih besar pembangunan landed. Karena pembangunan rusunami masih terbilang baru. Untuk pembangunan landed masih mencapai 65 persen sedangkan pembangunan rusunami sekitar 35 persen. Tapi nantinya, pembangunan perkotaan komposisinya pembangunan rumah vertikal bisa mencapai 60 persen, Dan ini berarti kita perlu menyiapkan tenaga-tenaga yang handal dan kompeten.

Bagaimana menyiapkan itu?

Di masa transisi ini kita coba bermitra dengan yang expert. Sehingga tim yang ada dapat belajar. Kita perlu memperbaiki standar kerja, revisi, budget, template, budget planning, budget management dan juga bagaimana melakukan pemahaman marketing yang modern. Nah, ini kita coba mengantisipasinya, sehingga orang-orang yang sekarang baru direkrut kita tempatkan di proyek-proyek tadi.

Bagaimana dengan budaya masyarakat yang masih belum terbiasa tinggal di rusun ?

Ya, walau agak terlamabat dari Negara-negara tetangga seperti Singapura dan Cina, adanya program 1000 tower ini diharapkan dapat merubah mindset orang bahwa punya rumah itu tidak harus yang landed. Orang juga bisa tinggal di rumah vertikal sehingga jauh lebih efisien. Tapi ternyata untuk tinggal di rumah vertikal pun harus diberikan sosialisasi bagaimana budaya tinggal di rumah susun. Dan itu memang harus selalu dilakukan terus menerus.

Himawan Arief Sugoto, menyelesaikan gelar sarjananya di Teknik Sipil InstitutTeknologi Bandung, Maret 1990, kemudian lulus Master dengan Predikat CumLaude dibidang Project Management Universitas Indonesia (2001).

Karier panjangnya dimulai di PT Lenggogeni, sebagai Drainage Engineer pada proyek Botabek, Urban Development. Pria kelahiran Solo, 27 April 1963 ini mendapatkan Overseas Experiences Sebagai Representative & Civil Engineer di Siraishi Corporation Japan – General Construction; (September 1990 –Januari 1995) . Kemudian bergabung dengan PT. Prosys Bangun Nusantara (Bakrie Group) sebagai Chief Operation Officer sampai 2000, hingga menempati posisi puncak sebagai sebagai President Director / CEO (2000-2007) di Prosys Bangun Persada (Prosys Group).

Prestasi dan karier cemerlangnya, mengantarkan Himawan pada posisi yang kini
disandangnya, sebagai Direktur Utama Perum Perumnas. (Rumah Kita, 01/Agustus 2009)






- : -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar