Selasa, 23 Juni 2009

Babi dan Koruptor


Minggu (21/06) lalu, saya ikut rombongan GPS (Gerakan Pro SBY) ke Padang. Hampir pukul delapan pagi, rombongan yang dipimpin Letjen TNI (purn) Soejono, menjejakkan kaki di Bandara Minangkabau. Hawa panas kota Padang langsung menghangatkan suhu tubuh.

Setelah transit sebentar untuk sarapan, langsung menuju Desa Tungkal Selatan, Kecamatan Pariaman Utara, Kabupaten Kota Pariaman. Di desa ini, bukan hanya disambut oleh para komunitas pemburu babi, atau Persatuan Olahraga Buru Babi (Porbi) Kota Pariaman, tetapi juga ratusan anjing mereka. Para anjing inilah yang menemani GPS dan Porbi berburu babi.

Kegiatan berburu babi di Sumatera Barat (Sumbar) memang unik. Kegiatan ini sudah menjadi kebiasaan turun-temurun, bertujuan untuk membasmi babi yang sudah merusak tanaman. Pengerusakan tanaman oleh babi ini sudah sangat merugikan, mengingat sawah dan hutan di Sumbar masih sangat luas dan menjadi sumber kehidupan sehari-hari penduduk.

Semula membasmi hama, berburu babi kemudian juga menjadi sebuah kegiatan hobi dan olah raga. Orang yang pergi berburu layaknya pergi kondangan, mereka mengenakan celana jeans, baju bagus dan sepatu yang keren, terkadang bergaya koboi dengan kaus lengan panjang bertopi lebar, dan syal melingkar di leher. Alas kaki yang dipakai sangat beragam, mulai dari sandal jepit, sepatu joging, sepatu bot, hingga sepatu pantofel.

Anjing-anjing pemburu sudah menjadi teman bagi penduduk. Hampir pada setiap rumah, anjing juga menjadi salah satu penghuni. Bila saatnya berburu, seluruh anjing pemburu di Pariaman (jumlahnya bias mencapai sepuluhribuan) begitu bersemangat menuju tempat perburuan. Anjing-anjing ini juga dirawat dan disayang. Diberi makan secara teratur. Dimandikan secara teratur. Bahkan sering tampak pemandangan para pemburu menggendong anjingnya atau menaikkan anjing di sepeda motor mereka. Suatu pemandangan yang biasa apabila pada bagian depan sebuah sepeda motor ditambahkan tempat duduk untuk anjing. Para anjing itu dengan santai dan nyaman duduk di tempat duduk di depan tuannya, dan menikmati pemandangan alam di saat motor melaju.

Bicara babi, ingat beberapa tahun lalu ketika tim kreatif dari sebuah biro iklan (Komunika/ BBDO) membuat Iklan Layanan Masyarakat bertema korupsi. Mereka memvisualkan beberapa binatang sebagai simbol yang mencerminkan karakter seorang koruptor, salah satu binatang itu babi. Waktu itu saya bertanya kepada tim kreatif tersebut: “kenapa babi?” Mereka mengatakan ”babi rakus, apa saja dimakan, bahkan yang kotor-kotor”

Jadi sama dengan koruptor, babi memang harus diberantas. Di tingkat nasional, kita semua memburu babi koruptor. Di Sumbar, masyarakat memburu babi ’beneran’. Babi babi yang merusak dan menghancurkan. Merusak kehidupan masyarakat, menghancurkan kehidupan bangsa. Ayo, kita musnahkan babi-babi!